Minggu, 02 Oktober 2016

PSCS BHAWIKARSU 2016 -- ASPARAGUS PERCUSSION.

LIVING ON EARTH EXPERIENCE. PART 1.

HALLO! I'm a human as you see (or imagine) karna saya bisa membuat sebuah blog, so let's assume I'm a human ok. Ha ha ha.

Seharusnya di part satu ini aku memberikan identitas atau siapa aku atau apa hobiku dan alasan aku menggunakan font Georgia di post ku yang satu ini, ah, tapi ditunda saja, ya? Aku ingin cerita saja sepertinya! Semoga tidak bosan membaca tulisan banyak dariku, ya!

Jadi, semalam adalah kali kedua aku personally tampil di panggung PSCS, atau Pagelaran Seni Citra Smanti. Pentas seni SMA Negeri 3 Malang yang setiap tahunnya adalah acara paling besar sekolahku. Ah, untuk menjelaskannya aku tak bisa menuliskan di sini, karena aku ingin bicara dan cerita banyak kepada siapapun dirimu tentang PSCS yang membuat bulu kudukku selalu merinding setiap kali menyaksikannya. Hehe.

Aku di tahun terakhir di SMA ku kali ini, kelas 12. Tapi untuk para pejuang Bhawikarsu (re: siswa-siswi smanti) kelas 12 bukan alasan untuk berlelah-lelah ria dan mengabaikan pelajaran atau mengabaikan acara-acara smanti yang seabreg ini. 

Namun berada di sini dan menyaksikan segala proses mulai dari sepuluh bulan yang lalu sampai perekrutan crew dan penyeleksian artist yang dilakukan dengan begiiituuuu banyak step dan penyaringan. Here we are, di panggung PSCS 2016 yang, adualah amazing nya!

Tahun lalu aku tampil bersama B-Choir dan menyanyi bersama Endah & Rhesa, salah satu artis ibu kota yang kusaksikan sendiri ramahnya dan humble seorang artis. Belum pernah bertemu artis seramah dan sehumble mereka berdua.

Tahun ini, di panggung yang sama --namun dengan panggung yang lebih luas, dan LCD yang lebih besar, dan visual yang lebih baik, dan kualitas PSCS yang jauh lebih baik, aku, dan kelasku tampil memainkan perkusi dengan tong, wajan, tempat sampah, panci, dan lain-lain. Aku sendiri bernyanyi bersama dua orang temanku.

Aku agak takut kalau judul dan isi dari post ini akan bebeda, he he. Agak sulit untukku untuk tidak melantur ke mana-mana saat aku diberi nikmat keyboard dan laman untuk menulis tanpa batas seperti ini, tapi ini post pertama ku dan akan kucoba.

Kemarin sore PSCS mulai dibuka pada pukul 16:30, panggung outdoor, bazzaar, dan parade di luar terus bermain sampai malam --atau entah, karena aku ada di backstage. Pukul 18:15 dome UMM telah dibuka, penonton masuk, dan acara dibuka dengan Traditional Dance dari sekolahku, tentunya. Lalu dilanjut dengan pidato kilas kepala sekolahku, di mana aku sempat bertemu di backstage, ha ha.

Kelasku sendiri untuk tampil ke PSCS harus melewati pra-garkabhasu, di mana setiap kelas melawan kelas lainnya, menampilkan perkusi kelas atau dance kelas. Meski pun di luar tema, kelasku mampu mengundang tepuk tangan meriah dari penonton dan tampil memukau, kita pun diberi waktu satu bulan untuk tampil di Garkabhasu Puncak. Tema yang tadi tidak nyambung pun, terpaksa harus diubah mati-matian, karena terlalu stress dan tidak percaya bahwa mahakarya kita yang mengundang tepuk tangan meriah penonton tadi harus diubah hehe, kami malah pasrah dan tak bergerak sama sekali sampai H- satu minggu, ha ha ha.

Mengingat sekarang, rasanya lucu. Tapi pada saat itu tidak lucu sama sekali. Banyak yang sakit, banyak yang saling marah-marahan, banyak yang malas kerja, dan ada juga yang konsisten pacaran ha ha ha. 

Tapi pada akhirnya tampil di puncak garkabhasu dengan mengusung tema Angry Bird mampu meloloskan kita ber 30 menuju panggung PSCS 2016, meski pun 5 dari kita tidak bisa tampil. Ketiga temanku menjadi koordinator crew yang tidak mungkin tampil pada saat PSCS, salah seorang teman ku tidak diizinkan orang tuanya, dan satu orang lagi telah mendapat besasiwa untuk study di Singapore.

& Puff! Entah bagaimana tiba-tiba jetfire telah berkobar di depanku, aku yang berdiri di depan ribuan orang telah selesai bernyanyi, dan tujuh menit yang kita korbankan dengan keringat, uang, waktu, dan kelelahan luar biasa selama empat bulan terakhir telah selesai. "Terima kasih PSCS 2016!" Jeritku spontan saat wajan terlempar mengakhiri pertunjukan perkusiku saat itu. 

Lalu panggung black out dan semua berjalan ke belakang panggung. Wow. Secepat itu ternyata penantian yang selama ini kita tunggu-tunggu. Jantungku yang berdebar seperti gila di belakang panggung selama sepuluh menit yang terasa seperti satu jam tadi tidak ad apa-apanya dengan kepuasan jeritan penonton dan tepuk tangan mereka.

Terima kasih telah bertepuk tangan, terima kasih telah menjerit, terima kasih telah menonton kami. Ini yang kami tunggu-tunggu selama berbulan-bulan terakhir, dengan segala insiden, segala tawa, marah-marahan, air mata, dan keringat. Terimakasih audience PSCS 2016!

Terima kasih Artist Manager dan Coaching Asparagus! Terimakasih sudah memberikan waktu dan semangat kalian untuk mengatur 25 manusia super rumit ini, ya! Terima kasih juga untuk pelatih kami! 

& Grateful to be part of yours, Asparagus! Terima kasih telah membuatku nyaman selama satu setengah tahun ini, dan aku yang tadinya ingin cepat-cepat lulus SMA karena kupikir SMA itu sucks  tapi kemudian tuhan baik sekali mempertemukan aku dengan kalian, yang membuatku berubah pikiran. Let's have a long life together, let's have a beautiful memories, & let's do the lomba bayi 5 atau 7 tahun lagi. 

Sudah kelas 12, PSCS nya sudah selesai, mari belajar & back to reality.
Eh, nggak jadi deh, habis Bedhol Bhawikarsu aja ya, back to reality nya! HAHAHA. 
Read More

Total Pageviews

Diberdayakan oleh Blogger.

Formulir Kontak