Sabtu, 27 Januari 2018

LOVING ON EARTH #1 – Coban Talun!

Aloha! It's been a while ya since the last time I write here, hehe, by a while maksudku adalah sangat lama lebih dari setahun. Jadi, aku memutuskan membuat this "Loving on Earth" yang akan berisi jalan-jalanku with my Boo! HEHEHE. Isinya ga cheesy kok in shaa Allah. & semoga banyak bermanfaat karena isinya tentang wisata-wisata di malang dan sekitarnya, OKE? Oke oke oke.

So, dari sekian banyak jalan-jalan yang tak terhitung sejak beberapa bulan lalu, dari yang mudah dijelaskan sampai sulit dijelaskan, dari muter-muter Malang sampai jauh-jauh, dari yang terdokumentasi hingga tidak terdokumentasi, dari yang senang-senang hingga banyak ngambeknya, aku memutuskan untuk menulis dulu pengalaman kita berdua ke: COBAN TALUN! Sebuah air terjuan yang sebenernya tempat ini udah cliche banget sih ya untuk direview, tapi aku tidak mereview kok di sini, cuma mo cerita aza gitu kawan-kawan or siapa pun yang membaca ini HEHE. 

Ok, jadi ini semua berawal di Jumat siang yang terik dan Irvan menjemputku di kos temanku karena aku harus menunggu dia selesai kelas -- sekitar jam 10an, terus setelah duduk di boncengan motor Scoopy yang sudah banyak diduduki wanita-wanita sebelumku, tiba-tiba Irvan yang nackal pun membuka sebuah dialog, "Udah, skip aja, kan masih 100 absensinya." karena dia tahu jam 1 aku masih ada satu matkul lagi, HE HE, emang, unsupportive boyfriend ya begitu ciri-cirinya, hati hati saja, Kawan. WKWK, tadinya sih Ken tidak tergoda ya, kaya 'Gaboleh, Ken, tahan tahan...' namun kemudian Ken berubah pikiran karena, absensi masih 100, dan Ken baru ingat karena setiap matkul ini Ken and de gengs selalu bobo di kursi paling belakang – mana kelasnya enak bgt lagi. OK skip, jadi sampai pengumuman KHS kemaren absen matkul ini masih 100 kok, karena asdos nya agak don’t care gitu.

Kita berangkat lah ke Coban Talun siang itu, jadi kita sangat sering ke jalanan Cangar guys, -- cangar semacam pemandian air hangat di Malang (nanti dibahas di lain waktu), nah kita sering lewat jalanannya, kalo ke Cangar nya Cuma sekali, tak lain dan tak bukan, karena Ken sangat suka melihat pemandangan indah & Irpan selalu kedinginan eheheh copo.

Jalan ke Coban Talun searah sama arah mau ke Cangar, cuma nanti belok kiri waktu ada papan penunjuk “COBAN TALUN” gitu deh yaw. Nah, ini first time nya Irpan ke Coban Talun dan ke-sekian kalinya Ken ke Coban Talun. Cuma sekarang Coban Talun banyak direnovasi dan dikasi kaya wahana-wahana gitu buat bayar-bayar lagi di dalemnya, nah, itu Ken belum pernah cobain.

Harga tiket masuknya per orang Rp10.000, setelah bayar dikasih tiket terus kita parkir lagi. Nah karena si Irvan masih bawa tas gede karna emang baru selesai kelas, di tempat parkirannya nerima jasa penitipan barang dengan bayar Rp2.000 sajooo.

Setelah itu kita jalan-jalan ngeliatin wahana-wahana atau tempat-tempat yang baru dikelola sama mereka dan sekarang buat Coban Talun jadi lebih bagus. Terakhir aku ke sini isinya bener-bener masih hutan, bener-bener hutan gengs, nah kali ini ke sini udah bagus, ada perkemahan Apache, terus ada tempat spot-spot foto yang sekali masuk bayar 10-15 ribu per orang nya. Tapi karena Ken gasuka difoto-foto dan both of us ga terlalu doyan hunting-hunting foto gitu, jadi bukan suatu kewajiban masuk ke sana, tapi kalo yang suka foto-foto wajib sih masuk, karena keren banget dan aku melihat banyak mba mba hits lagi photoshoot ala-ala.

Jalan lah kita terus sambil kanan kiri tempat-tempat cafe dan tempat-tempat foto atau outbond, sesekali hutan yang pohonnya tingginya empat kaliku, probably, lalu mentok dan kita sampai di wahana terakhir yaitu Goa Jepang. Sebenarnya guys, sebenarnya, Ken langsung ingat pada Goa Jepang yang ada di Cangar. Singkat cerita, di Cangar ada goa juga dengan nama yang sama yaitu Goa Jepang, yang kita ke sana dan aku ngerasa serem banget cuma lihat lewat depannya aja, tapi Irvan yang pikun akan selalu mengatakan “apaansih” gitu, karena dia aga dongo emankkkkk heheheheeh, dia sudah lupa yang di Cangar itu Goa Jepang, atau Goa Korea, atau Goa Miyabi, dia sudah lupa pemirsa:)

OK, akhirnya kita masuk ke wahana Goa Jepang gengs, karena papan iklan nya di depan membuat Ken mengatakan wanjir koq keren dalam hati, thus kita hanya membaya Rp5.000 saja! Ken yang super irit ini sangat tertarik dengan tawaran tersebut. Jadi aku dan Irpan masuk, sebelum masuk Irvan nanya-nanya gitu ke anak punk mas-mas yang jaga di pos depan, katanya sekitar 500 meter atau 1 km gitu naik, -- aku lupa gengs maafin, yaudah, akhirnya kami berjalan dan berjalan. Jalannya kaya setapak gitu gengs di kiri semacam jurang, tapi ga curam, jadi kalau jatuh ya gelundung dulu gitu gengs baru masuk sungai, dan di kanan kita bukit yang di puncaknya ada semacam rumah kaca buat budidaya tanaman gitu, so cool.

Sepanjang perjalanan sepiii banget, ga ada orang atau pun penduduk yang lewat sama sekali. Tapi di kanan dan kiri ada plang-plang lucu gitu kaya penunjuk arah, atau disuruh menjaga kebersihan, intinya kelihatan gitu kalo terawat dan emang udah dikelola. Setelah jalan sangat cukup jauh, dan Ken ngos-ngos an, ehehe, AKIRNYA SAMPAI! Baru sampai di Goa Jepang y gengs, coban nya belom nih. Seperti ini penampakannya:

Spot Foto Sepanjang Perjalanan
Depan Goa Jepang

Setelah sampai di depan nya, perasaan sama seperti saat di Goa Jepang Cangar terasa. Serem banget gengs, merinding gitu tiba-tiba, at least aku sih ngerasa nya gitu. Engga enak deh pokoknya rasanya. & sampai sekarang aku punya teori kalau Goa Jepang di situ kalau kita masuk dan menelusuri kita akan sampai dan tembus ke Goa Jepang yang ada di Cangar HEHE.

Setelah 5 menit aja kita di sana – padahal jalannya setengah jam, kita akhirnya memutuskan untuk kembali, dan Irvan memaksa menuju coban atau air terjunnya walaupun cuaca saat itu sangatlah mendung, Kawan. Nah, sebelum ke air terjun kita makan di sekitar situ. Ini juga yang baru, terakhir aku ke sini, warung makan mungkin cuma ada dua, dan jualan mi goreng, mi kuah, atau gorengan-gorengan gitu. Tapi, sekarang setelah dikelola tiba-tiba warung-warung beranak pinak berjejer-jejer sampai samping toilet. Aqu kaged, tapi laper. Jadi yawdah, makan aja.

Kita makan indomie hehehe karena indomie seleraq, dan nasi karena Irvan mem-fardhu ain kan makan indomie harus sama nasi, so weird. Ngomong-ngomong, kalau bisa bawa bekal mending bawa bekal gengs, ingat, harga-harga bisa tiba-tiba naik di tempat wisata ok, air mineral botol di sana 5rb (600 ml), makanan juga otomatis harganya jadi ga seperti normalnya – walaupun ga mahal-mahal banget juga sih, tapi lumayan lah. Nah, plus nya warung-warung di sana menyediakan kebutuhan-kebutuhan urgent, yang mungkin ga dipikirin orang-orang yang mendadak dateng ke sana seperti kita. Mereka jual sandal jepit, jual jas hujan plastik, jual shampoo, sabun sachet, dan lain-lain.

Warung Tempat Makan
Setelah makan, tiba-tiba gerimis. Akhirnya kita kembali ke motor karena Irvan mau copot sepatunya dan gamake alas kaki alias nyeker. Nah, udah nih, mau otw ke air terjun, tiba-tiba my hani bani switi mampir ke toilet dan keadaan tbtb ujan deres banget, & DIA BEOL DONG. Lama. Banget. Di samping toilet itu ada ibu-ibu penjaga warung sama dua bapak-bapak yang lagi ngobrol, dari logatnya kaya orang daerah Jawa Tengah atau orang Jawa Timur daerah Blitar, Madiun, dll, terus melihat q berdiri menunggu ma boyfriend ee, ibunya kacian sm aq, lalu aku disuruh duduk di warungnya di dalem sambil berbincang-bincang. Setelah Irvan menyelesaikan masalahnya, kami menunggu hujan reda di dalam warung ibuknya karena tiba-tiba hujannya very very heavy kaya bener-bener deres gitu, dan lumayan awkward  di dalam sana with ibu-ibu nya karena gatau mau ngomong apa wkwkw.

Terus hujan mulai reda, aku berinisiatif mengajak ma baby ke bendungan yang ada di sana. Bagus. Aku inget pernah ke sana. Akhirnya kami pamit sama ibunya, terus jalan ke bendungan, dan lagi-lagi ada pembangunan baru yang kalau kita mau lihat bendungan harus masuk dulu kaya outdoor restaurant gitu dan bayar lagi:) tapi untung nya, itu masih tahap pembangunan, jadi kita bisa masuk dengan bebas.

sumber: TripAdvisor
Nah kurang lebih seperti itu penampakan bendungan DAM nya, itu sumber nya dari google karena kita ngga sempat ambil foto waktu di sana. By the way, di sana sering dibuat tempat foto-foto sampai pre-wedding teman-teman, ga paham juga gimana caranya ya. Kemudian, hujan kembali deras, akhirnya kita memutuskan kembali untuk berteduh, sekaligus aku mau lepas sepatu karena waktu itu aku pakai flat shoes, namanya juga pulang kuliah hehe, dan sangat tidak nyaman. Setelah kembali ke parkiran dan berteduh dan memikirkan bagaimana ke depannya, -- btw parkirannya ada teduhannya, dan Irvan searching-searching “kasus orang meninggal di coban talun” yes, typical parno an Irvan nya muncul. Tapi emang bahaya sih, hujan-hujan gitu, pertama bahaya longsor, bahaya banjir, dan ketiga bahaya kepleset karena medannya bukan buat haha hihi gitu loh – nanti aku ceritakan in details, ok.

Irvan memutuskan untuk membeli jas hujan untuk q, dan dia hujan-hujan. Jadi, sepanjang perjalanan ke sana, aku memakai jas hujan plasti warna hijau, oyeah. Jadilah petualangan dimulai, YAY! (baru dimulai, dari tadi ngapain)

Kita jalan awal dan mulai menginjak lumpur pertama yang menghisap kaki-kaki ku, kemudian kita melewati jembatan yang di bawahnya ada sungai. Sungai di sini bersih, guys, tapi sayangnya adalah: SAMPAH. Ga paham kenapa sampah bisa banyak banget, kesannya jadi jorok. Padahal air sungai nya bening banget. Kemudian kita mulai berjalan menanjak dan di sana kita masuk ke hutan-hutan. Nah, seingetku, dulu aku ke sini kaya jauhhhh banget gitu guys kaya ga nyampe-nyampe, teoriku adalah antara aku dulu tersesat sama temen-temen kelasku waktu ke sini jadi jalan berputar, atau kerasa cepet karena sekarang ke sananya sama pacar??????? Heheheheheheehhe. Ew. Jadi setelah berjalan ada spot foto gengs di dalemnya, yup, bayar 5rb/10rb gitu di dalemnya, ini worth it, kalau cuaca bagus kalian wajib ke sini. Temanya adalah 1000 ayunan gitu kalo ga salah, jadi banyak banget ayunan nya, dan waktu kami lewat masih banyak mba mba hids yang lagi poto2.

Ok lanjut, kemudian kami jalan dan jalan, nah waktu berangkatnya jalanan otomatis curam turunnya teman-teman, dan dalam keadaan hujan tapi syukur Alhamdulillah, hujannya cuma gerimis. Tapi beberapa kali aku kepleset begitu juga dengan si Jamet. Setelah berjalan, kepleset, berjalan, kepleset, dan entah brp kali w menarik kaos nya karena takut kepleset sampe mungkin melar kaosnya y, akhirnya di turunan terakhir curam banget tapi ada kaya batu-batu nya gitu jadi agak tertolong, DAN AKU TERKEJUT. ADA WARUNG GENG DI BAWAH! Bener-bener aneh bin ajaib, kemajuan pesat yg tak kumengerti gituloh, ada anak muda lelaki satu sama kakek2 satu yang jaga itu warung, dan jualan minuman-minuman hangat gitu teman-teman.

Kami berdua duduk di warung itu, -- tempat duduknya di luar, tapi ada atapnya jadi ga kehujanan dan bisa lihat air terjun. To be honest, air terjun nya biasa banget guys hehe, aku yang udah pernah sebenernya ga terlalu tertarik ke air terjunnya, namun untuk memenuhi rasa penasaran si Jamet jadi lah kita ke sini. Kalau dibandingkan air terjun Coban Rondo, masih bagus di sana. Sekali lagi, sampah yang bikin aku super risih di sini dan terlihat ga kerawat banget, meskipun sudah sangat improve, tapi sampah tetep di mana-mana. Selain itu, air sungainya engga bening guys, (sungai di atas bening tapi gatau kenapa sungai dkt air terjun coklatt) jadi meskipun ngga hujan, tetep aja air yang mengalir di bawahnya coklat gitu, dan akses buat turun ke sungai susah, jadi gabisa main air kalau sudah sampai di coban nya.

Aku yang masih deg-deg an banget dan sesekali ngeliatin debit air terjun dan debit air di sungai yang aku takut kalau tiba-tiba naik dan melahap kami berempat (ditambah kakek-kakek dan mas-mas warung) duduk diem aja, sementara hujannya makin deres, lalu Irvan menenangkan dengan cara menertawakanq dan mengatakan everything will be alright. Well what if it’s not??????????? Karena kita literally di bawah sana kerasa banget dihimpit tebing-tebing tinggi guys, cuma ada kami mahluk kecil-kecil, lalu tebing-tebing besar dan air terjun yang massive, dan hujan deras. Gimana i ga takut??????

Lalu tiba-tiba Irvan memanggil, “Liat, Yang!” dan air terjun bening yang tadi kulihat, -- iya air terjun nya bening guys, tapi sungainya coklat, tiba-tiba air terjunnya berubah jadi coklat susu juga & membuktikan bahwa teori Irvan somehow mungkin benar, kalau hujan yang mengakibatkan hal tsb, yawdahlayha aku jg lupa gmn teorinya pokonya gitu intinya HEHEHEHEHE.

Akhirnya, karena gaena numpang duduk doang di warung, Irvan pesen minuman hangat for both of us, sambil menunggu hujan reda. Lalu tiba-tiba datang segerombolan bocah-bocah mungkin SMP, cowok-cowok yang keujanan basah banget dan ikut neduh di sana, tapi kita tidak berinteraksi sama sekali. Setelah hujan reda, Irvan ngajakin foto-foto, well even though i’m really not in the mood, tp aku mikir kaya yaudah jauh-jauh masa ga foto wkwkww, akhirnya kita foto deh.


Jadi itu penampakan foto pertama dari warung tempat kita berteduh, kira-kira segitu jaraknya, foto kedua ada jembatan yang lebih deket ke air terjun dan keliahatan air terjunnya coklat, dan foto ketiga sekarang ada spot buat selfie atau foto-foto ria. Pokoknya intinya foto-foto deh kalo di sini, banyak banget spotnya. Lagi, lagi, dan lagi kami gabisa foto bareng karena ga ada yang nge fotoin jadi cuma bisa selfie ajah.

Setelah hujan reda akhirnya kami memutuskan untuk naik lagi, jadi kira-kira di bawah sana engga sampai satu jam gitu. Nah perjalanan naik juga jadi cerita lagi, karena licin banget dan Ken sangat mudah cape dan cupu banget, tapi sekuat tenaga Irpan menyeret Ken naik karena dia ngeri kalo longsor katanya wkwkw, oiya guys SANGAT TIDAK DISARANKAN GAPAKE ALAS KAKI, bahaya banget selain duri-duri, kaki aku kemasukan duri kecil sampai dipake jalan sakit nyeri gitu sampe 2-3 hari, dan kerikil-kerikil, Irvan juga sempet kena kaca di jalan naik:) gimana ga panik i?????? yah pokoknya harus deh make alas kaki, gitu. 
Di perjalanan naik kita ngelihat jalanan yang tadi kita lewatin ada yang udah longsor gengs, Irvan makin panik dan nyuru aku cepet-cepet. Tiap aku mau istirahat, dia bilang “Di depan aja, ga aman di sini, di depan aja” tapi endingnya ga istirahat samsek, ditarik terus tangan w sampe kita nyampe ke parkiran:) tp bener juga sih, kalo engga bisa berbahaya for the both of us.
SOOO, yay alhamdulillah kita sampai di parkiran, dengan basah semua dan si Irvan udah super super basah kaosnya, akhirnya tas aku ditaruh di jok, tas Irvan aku pake & aku pake jas hujan, terus kita sama-sama ga pake sepatu, dan Irvan make jaket aku karena dia cuma make kemeja ga bawa jaket:):) terniat 2017 sihhhh &&& kita pulaaaang. Sebenernya ga pulang juga sih, jadi kita ke kos nya Irvan lalu aq menunggu di motor si Jamet ganti bajooo karena aku tidak basah samsek, cuma kerudung aja yang basah, so i’m okay, laluuu kita melanjutkan perjalanan kitaaa HAHAHAHA.


Yas, this is some kind of diary, or travel journal. I write what I want, and I’m aiming not for the public to read it but for me to read it in the future. Jadiii, kalo hasilnya jadi kaya diary dan terlalu detail padahal-mah-cuma-gitu-doang, yasudah, ya... kusuka menulis sih, jadi gmn lagi. OK thankyou kalau kamu manusia yang membaca ini, masih banyak yang akan kutulisss ke depannya yay! Sekarang jam 2 pagi, so I would probably take some nice sleep hehehee love uuuuu<3
















Read More

Total Pageviews

Diberdayakan oleh Blogger.

Formulir Kontak